Kamis, 04 Mei 2017

TANAMAN CERMAI



CERMAI (Phyllanthus acidus (L.) Skeel)
cer bi.jpg
Gambar : Cermai atau cerme (Phyllanthus acidus (L.) Skeel)

Cermai atau cerme (Phyllanthus acidus (L.) Skeel) merupakan tanaman perdu yang memiliki tinggi mencapai 9 m. Pohon cermai  memiliki bentuk seperti tanaman belimbing wuluh. Tanaman ini memiliki tingkat percabangan yang rendah. Cermai termasuk tanaman dikotil karena memiliki akar tunggang, tulang daun menyirip. Bunga-bunganya berkelamin ganda ada yang berkelamin tunggal, berbilang 4. Buahnya bulat dengan 6-8 rusuk, berwarna kuning keputuhan. Daging buahnya masam dan banyak mengandung air. Dalam satu buah terdapat 4-6 butir biji, yang mana biji ini digunakan sebagai benih (Koko, 2015).
            Buah cermai sering dimakan segar dengan dicampur gula, garam atau dirujak. Cermai juga kerap dibuat manisan, direbus (disetup) atau dibuat minuman penyegar. Daun mudanya digunakan sebagai lalapan. Bahan penyamak juga dihasilkan dari kulit akarnya. Pohon cermai kerap ditanam sebagai peneduh atau penghias halaman dan taman. Pohon ini dapat tumbuh di daerah tropis dan subtropis, menyukai tempat yang lembap sampai ketinggian sekitar 1.000m dpl. Cermai dapat dibiakkan melalui biji atau stek (Nofita, 2014).


  

       I.            Klasifikasi
cer.jpg
Gambar : Tanaman cermai
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angeospermae
Kelas               : Dikotyledoneae
Bangsa                        : Euphorbiales
Suku                : Euphorbiaceae
Marga              : Phyllanthus
Jenis                : Phyllanthus acidus (L.) Skeel
Dalam bahasa Indonesia cermai, ma-yom (Thailand), cermai dalam melayu, dan dalam bahasa asing di kenal dengan nama otaheite gooseberry (Verheij, 1997).

    II.            Morfologi
1.      Akar
Memiliki akar tunggang sehingga dapat diketahui bahwa tanaman ini merupakan tanaman dikotil.
2.      Batang
Tanaman cermai memiliki batang yang tinggi mencapai 9 m. Batang tegak, bulat serta berkayu. Batangnya mudah sekali patah, permukanya kasar, percabangan monodial, warna batang tanaman cermai coklat.
3.      Daun
Tanaman cermai  berdaun majemuk, berbentuk lonjong, berseling, tepi daunya rata, panjang mencapai 5-6 cm dan lebar 2-3 cm. Bertulang daun menyirip, ujung daunya runcing, pangkal tumpul, berwarma hijau muda.
4.      Bunga
Bunga tanaman cermai majemuk, berbentuk bulat, tangkai bunga menepel pada ranting pohon dan silinders, panjang bunganya kurang lebih 1 cm. Bunga cermai berwarna hijau muda, kelopak berbentuk bintang halus, mahkota berwarna hijau muda.
5.      Buah
Buah berbentuk bulat, permukn tidak rata (berlekuk-lekuk), warna buahnya kuning keputih-putihan.
6.      Biji
Biji bulat pipih, berwarna coklat muda (Hutapea, 1994).

 III.            Penyebaran
Tanaman cermai berasal dari Madangaskar, yang kini telas menyebar ke berbagai wilayah tropis seperti Vietnam Selatan, Laos, Indinesia, Malaysia, dan dikepulauan-kepulauan misalnya kepulauan Mauritius, Reonion, dan Rodrigues di Samudera Hindia, serta di Guama dan Hawaii dan kepulauan Samudera Pasifik. Sejak tahun 1973 tanaman ini mulai masuk di Benua Amerika. Tanaman ini dibawa ke Jamaika dari Timor. Selanjutnya menyebar di daerah Karibia hingga masuk ke Amerika Tengah dan Amerika Latin (Verheij, 1997).

 IV.            Budidaya


Tabulampot cereme manis

Cermai berkerabat dekat dengan pohon malaka (Phyllanthus emblica) dan meniran (Phyllanthus niruri), keduanya adalah tumbuhan yang berkhasiat obat. Biji cermai digunakan sebagai benih perbanyakan. Sebelum dilakukan penanaman sebaiknya benih di semai dalam pot kemudian setelah dewas bisa di pindah. Benih cermai akan tumbuh sekitar 1-2 minggu setelah tanam. Kemudian di pindah ke dalam pot atau media tanam. Belum genap satu bulan di tanam di pot, pohon segera memunculkan bunga-bunga yang semarak. Terkadang di ujung-ujung tangkai daun majemuknya tumbuh bunga dan juga pentil-pentil hijau yang berukuran kecil. Sekitar 9 bulan telah berbuah sebanyak 3 kali. Biasanya bunga-bunga akan bermunculan kembali berselang sekitar 2 minggu setelah buah habis dipanen.
Gambar : Tanaman cermai dalam pot.
Bunga-bunga cermai akan segera menjadi pentil buah berwarna hijau muda berselang sekitar satu sampai 2 minggu kemudian. Buah-buah kecil bergerombol sangat banyak, bahkan terkadang sampai menyentuh dasar media pada pot. Buah yang telah masak berubah warna menjadi kuning cerah. Cermai memang bukan buah komersial. Dengan sedikit kandungan rasa manis di daging buahnya, ditambah rasa sedikit kecut dan sepet tentu tidak mudah menandingi buah-buah komersial lain seperti strawberry, cherry, kelengkeng dan sebagainya (Verheij, 1997).

    V.            Syarat tumbuh
Karakter pohon cermai yang gampang tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian sampai 2000 m dpl, mudah perawatan, dan terus-menerus berbuah.

 VI.            Manfaat
Daun, kulit batang, dan kayu mengandung saponin, flavonoid, tanin, dan polifenol. Akar mengandung saponin, asam galus, zat samak, dan zat beracun (toksik). Buah mengandung vitamin C. Daun berkhasiat sebagai peluruh dahak, pencahar (purgatif), mual, kanker, dan sariawan. Kulit berkhasiat mengatasi penyakit asma dan sakit kulit. Kulit akar dan buah berkhasiat sebagai pencahar. Biji untuk mengobati sembelit dan mual. Di Thailand, akar tanaman dimanfaatkan sebagai rehabilitasi dari seseorang yang kecanduan alkohol. Pengobatan ini sangat efektif, namun ternyata menimbulkan efek samping kronis yang cukup serius (Cookson, 2004).
Vongvanich et al (2000)  melaporkan penemuan senyawa glikosida Norbisabolane yaitu Phyllanthusols A and B yang bersifat sitotoksik terhadap BC dan KB cell lines. Phyllanthusols A (1) dan B (2) menunjukkan sitotoksisitas terhadap  BC (EC50 pada 4.2 dan 4.0 μg/mL untuk 1 dan 2, masing-msaing) dan KB (EC50 pada 14.6 dan 8.9 μg/mL untuk 1 dan 2, respectively) cell lines, sedangkan aglikon 3 dan sakarida 4 tidak menunjukkan efek toksik. Senyawa ini ada dalam tanaman dengan karadar yang cuku p tinggi  (ca. 1 mg/g berat basah) dan senyawa sitotoksik glikosida norbisabolane g 1 pada akar  P. acidus, yang mungkin bertanggung jawab terhadap penyakit kronis ketika sesorang meminum ektrak akar tanaman ini. Selain itu menarik sebagai penghias halaman di perkotaan. Sekaligus memberikan nutrisi sehat bagi seluruh keluarga (Dalimartha, 1999).





DAFTAR PUSTAKA

Cookson, W. 2004. The Immunogenetic Of Asma And Eczema: A New Focus On The Ephitelium. Nature Reviews Immunology. Vol. 4 No. 12: 978-988.
Dalimartha, S. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1. Trubus Agriwidya. Jakarta.
Koko, M. 2015. Cermai. http://mangkoko.com/kebun_organik/cereme-manis. (Online). Diakses tanggal 19 April 2017.
Nofianti, T. dan Hidayati, N. 2014. Aktivitas Laksatif Infusa Daun Cermai (Phyllanthus acidus (L.) Skeel) pada Mencit. J. vol 11. Tasikmalaya.
Verheij, E.W.M. dan Coronel, R.E. (eds.). 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. PROSEA – Gramedia. Jakarta. ISBN 979-511-672-2.
http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id=16. (Online). Diakses tanggal 19 April 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

teknik sambung susu tanaman semangka (citrullus vulgaris)

tekni sambung merupakan teknik vegetasi untuk menigkatkan buah dan mempercepat umur berbuah serta memperbaiki ketururnan sesuai induknya ata...